عَنْ
سَلْمَانَ قَالَ قِيلَ لَهُ قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ -صلى الله عليه
وسلم- كُلَّ شَىْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ. قَالَ فَقَالَ أَجَلْ لَقَدْ
نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ
نَسْتَنْجِىَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِأَقَلَّ مِنْ
ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِىَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ.
Salman
Al farisy beliau pernah ditanya: apakah nabi kalian telah mengajarkan
kepada kalian segala sesuatu sampai dalam hal buang air? Beliau
menjawab: iya, sungguh beliau Shallallahu 'alaihi wasallam melarang kita
untuk menghadap kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil, dan
(melarang pula) untuk membersihkan kotoran (setelah buang air), dengan
tangan kanan atau membersihkannya dengan kurang dari tiga batu, atau
membersihkannya dengan kotoran hewan (yang kering) atau dengan tulang(HR. Muslim no. 629 dari Salman Al Farisy).
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang akan senantiasa berhubungan dengan orang lain. Paling tidak dia akan berinteraksi dengan keluarganya . Di luar rumah, dia akan berjumpa dengan berbagai tipe manusia. Ada yang muslim, ada yang kafir, ada yang dewasa dan adapula yang anak-anak. Seorang muslim membutuhkan adab yang baik dalam bergaul dengan masyarakatnya. Diantara bimbingan Islam dalam hal ini adalah dengan menebarkan salam.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ
حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ
لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (27)
(artinya) : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, agar kalian (selalu) ingat. (An Nur : 27)
Demikian pula dalam ayat yang lain Allah subhanahu wata'ala berfirman:
فَإِذَا
دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ
عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ
الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (61)
(artinya)
: Maka apabila kalian memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini)
hendaklah kalian memberi salam kepada diri kalian sendiri (yang berarti
memberi salam kepada penghuninya), salam yang ditetapkan dari sisi
Allah, yang diberi berkah lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan
ayat-ayatnya(Nya) bagi kalian, agar kalian memahaminya. (An Nur : 61)
Tata Cara Mengucapkan Salam
Lalu bagaimanakah tata cara salam yang benar?
عَنْ
عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله
عليه وسلم- فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ
ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « عَشْرٌ ». ثُمَّ
جَاءَ آخَرُ فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَرَدَّ
عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ « عِشْرُونَ ». ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ عَلَيْهِ
فَجَلَسَ فَقَالَ « ثَلاَثُونَ ».
Shahabat yang mulia ‘Imron bin Hushain mengatakan: telah datang seorang lelaki kepada Nabi shollallahu 'alaihi wasallam. Maka dia pun berkata: Assalamu ‘alaikum (semoga keselamatan atas kalian), lalu beliau Shallallahu
'alaihi wasallam pun membalasnya, kemudian orang itu pun duduk. Nabi
Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : sepuluh (kebaikan). Selanjutnya
datang lagi orang lain, lalu dia mengatakan: Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah (semoga keselamatan dan rahmat Allah atas kalian). Beliau pun membalasnya, maka orang itu pun duduk. Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: dua puluh (kebaikan). Kemudian datang lagi yang lain, lalu dia mengatakan: Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh (semoga keselamatan dan rahmat Allah dan juga berkahNya atas kalian). Beliau pun membalasnya, lalu orang itupun duduk. Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: tiga puluh (kebaikan). (HR. Abu Dawud no. 5197 dari ‘Imron bin Hushain).
Hadits
ini mengajarkan kepada kita tata cara mengucapkan salam. Ada tiga cara
dalam mengucapkannya, yaitu assalamu ‘alaikum, assalamu ‘alaikum wa
rahmatullah, dan assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh. Masing-masing darinya memiliki pahala tersendiri. Semakin sempurna dalam mengucapkan salam, maka pahala yang akan didapatkan pun semakin banyak. Sebagaimana Allah Subhanahu wata'ala telah memerintahkan untuk membalas salam seseorang dengan yang lebih baik atau yang semisalnya. Hal ini tersebut dalam firmanNya:
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا (86)
(artinya) : Apabila
kamu diberi penghormatan (salam) dengan sesuatu penghormatan, maka
balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau
balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah
memperhitungankan segala sesuatu. (An Nisa’ :86)
Memberi salam merupakan hak seorang muslim atas muslim yang lainnya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ ».
قِيلَ
مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ
عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ
وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ
وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ ».
(artinya) : Hak
seorang muslim atas muslim yang lainnya ada enam. Lalu ditanyakan
kepada beliau: apa saja wahai Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam?
Beliau menjawab : apabila kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam
kepadanya, apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, apabila
dia meminta nasehat kepadamu maka berilah dia nasehat, apabila dia
bersin lalu dia mengucapkan alhamduillah, maka doakan dia dengan doa
yarhamukallah, apabila dia sakit maka jenguklah dia, dan apabila dia
meninggal maka ikutilah jenazahnya. (HR. Muslim no. 5778 dari Abu Hurairah).
عَنْ
عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلاً
سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَيُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ
تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ ، وَمَنْ
لَمْ تَعْرِفْ.
Ada seorang bertanya kepada Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam : (diantara ajaran Islam
apakah yang paling baik? Baliau menjawab: engkau memberikan makanan
(kepada yang membutuhkan), dan engkau mengucapkan salam kepada orang
yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal. (HR. Al Bukhari no. 12,28,6236 dan Muslim no. 169 dari ‘Amr Bin Al ‘Ash)
Para
shahabat dahulu, tatkala menanyakan sesuatu kepada Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wasallam bukan sekedar untuk mencari ilmu, namun
juga ingin untuk mengamalkannya. Maka apabila dikatakan kepada mereka Islam
seperti ini dan itu, maka mereka akan bersegera untuk mengamalkannya.
Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi yang bertanya kepada seorang
alim dan dia meminta kepadanya suatu fatwa, hendaklah meniatkan dalam
hatinya untuk mengamalkan, apabila sang alim menunjukkan kepadanya suatu
kebaikan. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh para shahabat.
Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan seseorang agar
mengucapkan salam kepada orang yang dikenalnya ataupun yang tidak
dikenalnya. Maka hendaknya seseorang memberi salam bukan kepada yang
dikenal saja, bahkan seyogyanya ia mengucapkan salam dalam rangka untuk
mendapatkan pahala dan juga agar menumbuhkan sifat lembut di hati kaum
muslimin. Apabila ia mengucapkan salam hanya kepada orang yang dikenal
saja, maka tentunya akan terluput darinya kebaikan yang banyak. Apabila misalnya,
ada sepuluh orang yang ditemui secara terpisah, namun ia hanya mengenal
satu orang saja diantara mereka. Jika hanya mengucapkan salam kepada
satu orang saja, tentunya pahala yang ia dapat kurang. Berbeda halnya apabila ia mengucapkan salam kepada orang yang dikenal dan yang tidak dikenal, maka tentunya pahala yang didapat akan semakin banyak. Dan ini merupakan sebab kaum muslimin saling mencintai.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
عَنْ
أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ
تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى
تَحَابُّوا.أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ
تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ ».
(artinya) : kalian
tidak akan masuk ke dalam surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak
dikatakan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukan
kepada kalian sesuatu yang bisa menyebabkan kalian saling mencintai?
Sebarkanlah salam diantara kalian. (HR. Muslim no. 203 dari Abu Hurairah)
Mengucapkan Salam Kepada Orang Kafir
Kemudian,
yang perlu diperhatikan adalah masalah mengucapkan salam kepada orang
kafir. Apabila seorang bertemu dengan orang kafir, maka tidak boleh
baginya untuk mengucapkan salam kepadanya. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang hal tersebut, sebagaimana dalam sabdanya:
عَنْ
أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ
تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ
أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ ».
(artinya) : Janganlah kalian mendahului mengucapkan salam kepada orang Yahudi dan Nashrani, dan apabila kalian bertemu dengan mereka di jalan, maka sempitkan jalan untuk mereka. (HR. Muslim no. 5789 dari Abu Hurairah)
Lalu bagaimana jika mereka (orang kafir) yang terlebih dahulu mengucapkan salam? Kita jawab wa ‘alaikum (dan atas kalian). Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam:
أَنَسُ
بْنُ مَالِكٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صلى
الله عليه وسلم إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا
وَعَلَيْكُمْ.
(artinya) : Apabila ahlul kitab (orang-orang kafir) mengucapkan salam kepada kalian, maka katakanlah wa ‘alaikum (dan atas kalian). (HR. Al Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 5780 dari Anas Bin Malik).
Dalam
riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan
bahwa orang kafir ketika mengucapkan salam, bukan yang dimaksudkan
adalah mendoakan keselamatan sebagaimana kaum muslimin. Akan tetapi, mereka menggunakan lafadz yang mirip, namun maknanya sangat bertentangan. Mereka mengucapkan assaamu ‘alaikum (yang artinya) racun (kecelakaan) atas kalian. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
عَنْ
عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ
صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمُ الْيَهُودُ
فَإِنَّمَا يَقُولُ أَحَدُهُمُ السَّامُ عَلَيْكَ فَقُلْ وَعَلَيْكَ.
(artinya) : Apabila
orang Yahudi mengucapkan salam kepada kalian, maka sesungguhnya mereka
mengatakan assaamu ‘alaik (kecelakaan atas kamu), maka jawablah wa
‘alaik (dan atasmu juga). (HR. Al Bukhari no. 6257 dari Abdullah Bin Umar)
أَنَسَ
بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ مَرَّ يَهُودِيٌّ بِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه
وسلم فَقَالَ السَّامُ عَلَيْكَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه
وسلم وَعَلَيْكَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَتَدْرُونَ
مَا يَقُولُ : قَالَ السَّامُ عَلَيْكَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ أَلاَ
نَقْتُلُهُ قَالَ : لاََ إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ
فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ.
Anas bin Malik pernah bercerita bahwa ada seorang Yahudi melewati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Lalu dia mengatakan, assaamu
‘alaik (kecelakaan atasmu). Maka Rasulullah shollallahu 'alaihi
wasallam menjawab : wa ‘alaik (dan atasmu juga). Tidakkah kalian
mengetahui apa yang dia katakan? Dia mengatakan assaamu ‘alaik
(kecelakaan atasmu), kata Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam selanjutnya.
Para shahabat pun mengatakan : wahai Rasulullah, tidakkah kita
membunuhnya? Beliau menjawab : jangan, apabila ahlul kitab mengucapkan
salam kepada kalian, maka katakanlah wa ‘alaikum (dan atas kalian juga). (HR. Al Bukhari no. 6926 dari Anas Bin Malik)
Kebiasaan mengucapkan salam kepada sesama kaum muslimin merupakan sifat yang terpuji.
Namun dewasa ini, banyak dari kaum muslimin yang meninggalkannya.
Ketika bertemu dengan sesamanya, mereka tidak mengucapkan salam. Bahkan
ada sebagian mereka yang lebih menyukai ucapan selamat pagi,selamat
sore, atau yang semisalnya. Padahal ini merupakan kebiasaan orang-orang
kafir. Maka hendaklah kita membiasakan diri-diri kita untuk memberi
salam kepada orang lain dengan salam yang sesuai dengan tuntunan
syariat.
Adab Mengucapkan Salam
Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wasallam sebagai suri tauladan yang baik bagi
umatnya telah mengajarkan kepada kita adab-adab ketika mengucapkan
salam.
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله
عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي وَالْمَاشِي
عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ
Diantara
adab yang beliau ajarkan adalah seorang yang berkendaraan memberi salam
kepada orang yang berjalan, orang yang berjalan mengucapkan salam
kepada orang yang duduk, dan orang yang jumlahnya sedikit memberi salam
kepada orang yang jumlahnya banyak. Dalam riwayat yang lain, Nabi
shollallahu 'alaihi wasallam menyebutkan: dan yang kecil memberi salam
kepada orang dewasa. (HR. Al Bukhari no. 6232,6231 dan Muslim no. 5772 dari Abu Hurairah).
Diantaranya pula adalah memberi salam tatkala memasuki rumah. Allah subhanahu wata'ala berfirman:
فَإِذَا
دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ
عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ
الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (61)
(artinya)
: Maka apabila kalian memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini)
hendaklah kalian memberi salam kepada diri kalian sendiri (yang berarti
memberi salam kepada penghuninya), salam yang ditetapkan dari sisi
Allah, yang diberi berkah lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan
ayat-ayatnya(Nya) bagi kalian, agar kalian memahaminya. (An Nur : 61)
Rasulullah Shallallahu
'alaihi wasallam juga mengajarkan untuk memberi salam kepada anak
kecil. Hal ini berdasarkan penuturan dari Anas Bin Malik.
عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّهُ مَرَّ عَلَى
صِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ وَقَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه
وسلم يَفْعَلُهُ.
Beliau
pernah melewati anak-anak lalu beliau pun mengucapkan salam kepada
mereka. Maka beliau pun berkata: adalah Rasulullah shollallahu 'alaihi
wasallam dahulu beliau biasa melakukan hal tersebut. (HR. Al Bukhari no. 6247 dari Anas Bin Malik)
Dari
hadits yang mulia ini kita bisa mengambil faidah, yaitu dibolehkannya
memberi salam kepada anak kecil. Dan mengucapkan salam kepada anak-anak
merupakan bentuk pengajaran akhlak kepada mereka. Sehingga nantinya
mereka juga akan terbiasa mengucapkan salam kepada orang lain. Tidak
sedikit dari anak-anak kaum muslimin sekarang ini yang tidak mengucapkan salam ketika bertemu dengan orang lain. Bahkan ketika masuk rumah mereka tidak memberi salam kepada keluarganya.Anak-anak merupakan generasi penerus yang akan membawa Islam di masa yang akan datang. Oleh karena itu, apabila dididik dengan baik semenjak dini, diharapkan mereka menjadi baik pula di waktu yang akan datang.
Sebagai penutup, ada baiknya kita mengingat hadits Nabi shollallahu 'alaihi wasallam:
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ ».
(artinya): Barangsiapa yang menunjukkan atas suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala semisal pahala yang didapat oleh pelakunya. (HR. Muslim no. 5007 dari Abu Mas’ud Al Anshary).
Semoga
dengan mencontohkan atau mengajarkan untuk memberi salam kepada sesama
muslim, kita akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang
mengamalkannya. Wallahu a'lam.
Oleh : Abu Ali Abdus Shobur hafidzahulloh
Muroja’ah : Al-Ustadz Abu Karimah Askari hafidzahulloh